Anak Muda Jepara Memilih Kerja di Pabrik daripada Jadi Penenun

Jepara Desa Troso merupakan salah satu desa yang menjadi sentra kain tradisional di Kabupaten Jepara. Kain tenun yang diproduksi di Desa Troso Kecamatan Pecangaan itu dikenal dengan sebutan tenun Troso.

Namun saat ini jumlah anak muda yang menggeluti kain tenun Troso semakin berkurang. Regenerasi penenun kain Troso semakin sedikit atau berkurang. Salah satu penyebabnya adalah munculnya beberapa perusahaan garmen di Jepara.

Ketua Pokdarwis Desa Wisata Tenun Troso, Bukhori mengatakan beberapa perusahaan tenun di Desa Troso sudah mulai kehilangan regenerasi penenun. Banyak pemuda yang beralih bekerja di perusahaan garmen.

“Ada sekitar 6.000 perajin tenun di Desa Troso. Namun akhirakhir ini sulit menemukan karyawan, karena kebanyakan anak muda di sini memilih bekerja di pabrikpabrik garmen yang banyak muncul di Jepara,” kata Bukhori, Selasa (18/7/2017).

Menurutnya jumlah penenun yang saat ini ada 60 persen. Sebagian besar didominasi oleh kalangan tua. Sedangkan sisanya dari generasi muda. Mereka bukan asli dari Desa Troso, tetapi beberapa diantaranya dari Desa Ngeling, Dongos dan Sowan.

“Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, padahal tenun Troso ini perlu keberlangsungan produksi,” lanjutnya.

Menurutnya, pelaku tenun terus berupaya membentuk paguyuban yang mewadahi generasi penenun muda. Hal ini guna melakukan pembinaan berkala.

“Dari kecil kami biasakan mereka untuk menyukai dulu tentang tenun. Tahap selanjutnya mereka akan dibiasakan untuk berkreasi, sehingga menghasilkan produk tenun yang selalu selaras dengan perkembangan jaman,” tambahnya.

Selain tantangan regenerasi kata dia, perajin tenun Troso juga menghadapi tantangan pengembangan motif.

“Saat ini corak motif menjadi hal yang perlu dikembangkan,” tandasnya.