Aksi Dendam Jemaah Ansharut Daulah

Kepolisian kembali menyatakan, dua pentolan Jemaah Ansharut Daulah, atau JAD sebagai pelaku penyerangan terbuka di Markas Polda Sumatera Utara, Minggu dini hari, 25 Juni 2017.

Seorang pelaku bernama Ardial Ramadhan (30), tewas seketika dengan sejumlah peluru. Sedangkan satu lainnya, Syawal Pakpahan (47), berhasil dilumpuhkan, dua peluru bersarang di kakinya.

Dari pihak Kepolisian, seorang personel bernama Aiptu M. Sigalingging pun tewas bersimbah darah, usai melawan dua pelaku yang bersenjata pisau dapur.

Pemeriksaan polisi, aksi teror ini diduga telah dirancang sejak sepekan lalu. Kedua pelaku pun dipastikan berafiliasi dengan kelompok teror di Suriah, atau ISIS.

Itu ditunjukkan dengan sejumlah bukti berupa lambang ISIS, buku-buku radikal, dan pengakuan dari istri Syawal Pakpahan yang menyebut suaminya pernah ke Suriah pada 2013 silam.

Apapun itu, kini nama JAD melambung lagi. Organisasi yang konon dibentuk pada 2015 dan diketuai terpidana terorisme Aman Abdurrahman di Lapas Nusakambangan ini dipercaya menjadi dalang setiap teror di Indonesia. Setidaknya, sejak kejadian bom Thamrin pada awal 2016.

“Kami mensinyalir pelaku sel dari kelompok JAD,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Siapa JAD
Kelompok teror radikal di Indonesia, sejak lama sudah diibaratkan mencukur kumis. Mau serajin apa pun, ia akan selalu tumbuh dan tumbuh.

Di Indonesia, merujuk pada laporan The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC)–lembaga pengamat terorisme Asia Tenggara–yang berjudul Disunity Among Indonesian ISIS Supporters and the Risk of More Violence.

Kelompok JAD, secara prinsip bukanlah organisasi resmi. Ia seperti sebuah penyebutan umum kepada mereka yang mendukung pergerakan kelompok teror ISIS.

Namun, seperti dilaporkan IPAC, di Kota Batu Malang Jawa Timur pada 2015, memang ada kesepakatan membentuk sebuah organisasi baru yang diberi nama Jemaah Ansharut Khilafah (JAK).

Belum disepakati siapa ketua dari organisasi ini. Namun, dipastikan organisasi ini terdiri dari berbagai entitas dan menempatkan Abu Bakar Ba’asyir sebagai dewan penasihatnya.

Beberapa entitas yang konon telah mendeklarasikan bergabung yakni, Mujahidin Indonesia Timur pimpinan almarhum Santoso, alias Abu Wardah, Muhaidin Indonesia Barat pimpinan Abu Jandal, alias Salim At Tamimi, Jamaah Islamiyah (JI), Al Muhajirun (afilias Hizbut Tahir Indonesia), Tim Hisbah, dan ada juga Ansharut Daulah Islamiyah(ADI)

Deklarasi inilah yang kemudian disebut intelijen Indonesia dengan deklarasi Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Ini juga sebagai buntut dari dicapnya Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) yang dibentuk Abu Bakar Ba’asyir sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada 2012, dengan tuduhan sebagai dalang Bom Bali 2002.

Atas itulah, sejak tahun itu muncul istilah JAD. Meski tak jelas siapa yang dipastikan sebagai pemimpin, namun organisasi ini disebut-sebut sebagai pemasok milisi untuk perang di Suriah.

“Jemaah Ansharut Daulah hanya sebagai istilah generik untuk menyebut mereka yang mendukung ISIS,” tulis laporan IPAC dikutip VIVA.co.id.

Kiprah JAD

Di luar itu, yang jelas, kini nama JAD sudah menjadi sosok lembaga baru yang disebut lahir dari rahim kelompok eksteremis Indonesia.

Bahkan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 10 Januari 2017, menetapkan JAD sebagai kelompok teroris yang mendukung jaringan teror ISIS.

Dalam klaimnya, AS menyebut bahwa JAD adalah dalang serangan teror di pusat Jakarta, yakni Bom Thamrin pada 2016, yang menewaskan delapan orang. Lalu, JAD juga diyakini menerima dukungan finansial dari militan ISIS di Suriah.

Berangkat dari pernyataan inilah, kemudian nama JAD di Indonesia makin ‘berkibar’. Kepolisian yang tadi awalnya belum tegas menyebut dalang bom Thamrin 2016 adalah kelompok JAD, akhirnya ikut memastikan bahwa JAD di balik kejadian itu.

Dan, tentunya dengan bantuan Bahrun Naim dan Bahrum Syah, warga negara Indonesia yang kini berada di Suriah dan telah menyatakan mendukung ISIS.

Lalu, apa saja kiprah JAD berdasarkan laporan keterlibatan mereka oleh polisi? Berikut, 10 teror yang dirangkum VIVA.co.id yang mengaitkan nama JAD:

1. Bom Thamrin 2016

Pada 14 Januari 2016, dua bom bunuh diri meledak di Pos Polisi di ruas Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat dan sebuah warung kopi Starbucks. Dua teroris lain, terlibat baku tembak dengan polisi dan akhirnya berhasil dimatikan.

Total korban delapan orang, dengan empat di antaranya adalah teroris. Polisi menyebut para pelaku adalah kelompok JAD yang dibina oleh Bahrun Naim.

2. Bom Solo

Pada 5 Juli 2016, atau enam bulan setelah bom Thamrin, aksi bom bunuh diri terjadi di Mapolresta Surakarta-Solo. Seorang polisi terluka dan pelaku tewas, dengan bom yang dibawanya di dalam sepeda motor.

3. Bom Gereja Samarinda

Pada 13 November 2016, seorang mantan terpidana teroris kasus bom buku di Tangerang pada 2011, tertangkap usai melemparkan bom di pintu Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang balita menjadi korban. Tubuhnya melepuh dengan luka bakar hampir 90 persen.

4. Teroris Waduk Jatiluhur

25 Desember 2016, dua orang teroris tewas dalam baku tembak di Waduk Jatiluhur Purwakarta. Dua lainnya berhasil diamankan dalam kondisi hidup. Kelompok ini disebut memiliki rencana bom saat Natal dan Tahun Baru 2017.

5. Bom Cicendo

Sebuah bom yang dirakit dari sebuah panci presto meledak di Taman Pandawa Cicendo Bandung, 27 Februari 2017. Seorang teroris bernama Yayat Cahdiyat pun ditembak mati. Pria ini disebut anggota JAD.

6. Baku Tembak Banten

Pada 23 Maret 2017, Densus 88 Antiteror menangkap delapan anggota JAD. Seorang di antaranya bernama Nanag Kosim tewas ditembak. Pria ini disebut sebagai pemasok senjata dari Filipina

7. Teror Polisi Lamongan

April 2017, tiga anggota teroris menyerang anggota Polsek Lamongan. Aksi berlanjut di Tuban. Enam orang menembaki anggota Polantas di Polres Tuban. Keenamnya disebut anggota JAD dan telah ditembak mati.

8. Teror Polres Banyumas

Muhammad Ibnu Dar (21) ditangkap di dalam markas polisi Polres Banyumas. Pemuda ini nekat mengenakan cadar dan membawa senjata tajam lalu menyerang polisi pada 11 April 2017.

9. Bom Kampung Melayu

Pada 24 Mei 2017, dua bom bunuh diri meledak di Terminal Kampung Melayu. Lima orang meninggal, dua teroris dan tiga polisi, serta melukai 12 orang lainnya. Kepolisian pun memastikan bahwa JAD menjadi dalang.

Atas itu, sebanyak 36 orang anggota JAD di berbagai daerah diamankan. Mereka ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi atas tindakan teror dan terlibat bom Kampung Melayu.

10. Teror Polda Sumut

Minggu 25 Juni 2017, seorang personel polisi tewas di dalam pos jaga Polda Sumut. Ia diserang dua pentolan JAD. Kepolisian pun menembak mati seorang di antara pelaku.

Atas itu, melihat pada sejumlah kejadian jika merujuk pada kesimpulan polisi, memang bisa dipastikan JAD sebagai dalang seluruh aksi teror, kesan dendam pun terlihat dalam rangkaian teror ini.

Dan, polisi sendiri sebagai target serangan itu. Sebab, JAD merupakan kelompok yang mengamalkan paham Takfiri yang dipopulerkan oleh Aman Abdurrahman.

Paham inilah yang menempatkan personel polisi sebagai prioritas. Dalam paham itu, polisi ditempatkan sebagai Kafir Harbi, yakni kafir yang agresif karena kerap menyerang pemegang ideologi Takfiri.

“Jadi, wajib diperangi duluan (polisi),” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Sejauh ini, Tito mengaku Kepolisian telah memiliki data lengkap mengenai siapa saja tokoh di balik JAD. Beberapa provinsi di Indonesia, bahkan telah terdeteksi ada jaringan JAD. “Mereka memiliki struktur rahasia. Sel-sel mereka tersebar,” kata Tito.

Tanpa komando

Di luar itu, siapa pun namanya, mau JAD atau bukan, masalah teroris di Indonesia adalah hal pelik yang harus dituntaskan.

Suka atau tidak bisa, jadi kini para pelaku teror ini telah bergerak mandiri dan sporadis tanpa perlu ada komando dari siapa pun. Akses internet dan jejaring sosial yang menebar banyak cara teror untuk membuat bom dan lain sebagainya menjadi panduan kelompok-kelompok ini.

Sehingga, mau ada organisasi JAD atau tidak, mereka yang terinspirasi aksi orang lain yang meneror bom, atau menyerang polisi, bukan tidak mungkin akan menjamur. “Satu serangan dapat menginspirasi yang lain melakukan hal serupa,” ujar pengamat teroris Ridlwan Habibi.

Atas itu, hal ini penting diwaspadai oleh publik. Kebiasaan orang Indonesia yang gemar menonton akibat teror pascabom juga harus dibenahi. Termasuk, menyebar informasi soal teror patut diingatkan.

Bukankah teror itu bukan cuma sekadar luka fisik, namun juga pesan mencekam yang menusuk di ingatan, juga telah menjadi hasil teror yang paling diinginkan oleh para teroris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *