Agus Hernoto, Prajurit Berkaki Satu Yang Menjadi Legenda Kopassus

Penulis asal Denmark, Hans Cristian (HC) Andersen pernah menulis cerita bertajuk, “The Steadfast Tin Soldier” atau “Prajurit Timah yang Tabah”. Di situ dikisahkan tentang prajurit timah berkaki satu yang jatuh cinta pada boneka balerina cantik yang sedang menari.

Di dunia nyata, cerita tentang prajurit yang menjadi invalid pasca bertempur banyak ditemui. Diantaranya Kolonel Agus Hernoto yang menjadi legenda di lingkungan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dan Kolonel Michael Roderick Ronny Muaya dari baret hijau. Agus kehilangan kaki kiri dalam sebuah pertempuran membebaskan Irian Barat dari Belanda, dan Ronny harus diamputasi lengan kirinya setelah tertembak Fretilidin di Timor Timur.

Sepak terjang keduanya sebagai prajurit dapat kita baca lewat buku Legenda Pasukan Komando: Dari Kopassus sampai Operasi Khusus dan Operasi Seroja di Timor Timur dahulu Kami Berjuang untuk Negara. Kedua buku tersebut ditulis putra masingmasing tokoh, yakni Bob H. Hernoto dan Bobby Revolta.

Ronny Muaya. Foto: Dok. Bobby Revolta

Dalam pertempuran di pedalaman Papua pada pertengahan 1962, Agus dan pasukannya terlibat kontak senjata hebat. Dia terluka parah pada bagian punggung dan kaki kiri dan tawan di Sorong. Bukan pengobatan yang didapat tapi hariharinya diisi dengan penyiksaan. Tapi mulut Agus terkunci rapat. Dia tak sudi membocorkan informasi terkait operasi besarbesaran yang dipimpin Benny Moerdani.

Karena tak mendapat pengobatan memadai, kaki kirinya membusuk dan mengeluarkan belatung. Dia pun rela diamputasi dengan peralatan medis seadanya.

Karena cacat, Agus Hernoto oleh pimpinan RPKAD dikeluarkan. Rekan yang juga atasannya, Benny Moerdani berusaha membelanya. Akibatnya, mereka berdua samasama dikeluarkan. Agus sempat bergabung dengan Resimen Tjakrabirawa (Pasukan Pengawal Presiden RI Soekarno), dan Benny ke Komando Cadangan Strategis Angkatan darat (Kostrad) di bawah Mayjen TNI Soeharto.

Di kemudian hari keduanya bergabung dengan tim Operasi Khusus pimpinan Ali Moertopo. Setiap kali ada operasi intelijen, dipastikan Agus terlibat dan berperan aktif di dalamnya. Dia misalnya pernah terlibat dalam

Operasi Komodo yang merupakan persiapan menuju serangan Seroja di TimorTimur. Agus ditunjuk langsung oleh Kepala BAKIN kala itu Letnan Jenderal TNI Yoga Soegama untuk mencari informasi mengenai keberadaan pospos musuh dan menentukan “dropping zone” yang aman.

Salah satu informasi menarik yang terungkap dalam buku Legenda Pasukan Komando adalah medali “Bintang Sakti” yang kemudian diterima Agus pada 1987. Penghargaan itu terkait dengan keberaniannya menanggung derita saat dipaksa membocorkan informasi di Papua pada 1962. Kala itu yang menerima medali paling bergengsi dari Presiden Sukarno cuma Benny dan Untung.

Bintang Sakti diberikan kepada Agus setelah mendapat kesaksian akan keberanian Agus dari perwira Belanda yang pernah menawannya. Kesaksian disampaikan kepada Benny Moerdani yang kala itu menjabat Panglima ABRI dan berkunjung ke Belanda.

Sementara Ronny Muaya memang tak selegendaris Agus. Tapi dia bisa menggambarkan potret prajurit pada umumnya yang mengalami invalid pasca pertempuran. Dia sempat stress berat, minder, dan nyaris frustasi untuk melanjutkan karirnya di dunia militer. “Bunuh saja saya, bunuh saja saya,” ujarnya histeris begitu tahu tangannya telah diamputasi di rumah sakit Dili.

Buku Operasi Seroja dan Legenda Pasukan Komando Foto: sudrajat

Butuh waktu panjang baginya mendapatkan kesadaran dan memulihkan kepercayaan diri. Ronny akhirnya bersedia dikaryakan dan melanjutkan karir di lingkungan sipil. Atasannya, Kolonel A. Tombak Siagian pernah menawarinya untuk mengajar di Akademi Militer atau kuliah di Akademi Hukum Militer. Dia akhirnya memilih tawaran ke dua hingga meraih gelar Sarjana Hukum. Bertahun berkecimpung di badan hukum Kostrad, Ronny kemudian dikaryakan ke Pertamina selama 15 tahun.

Pada 1999, begitu Timor Timur berpisah dari Indonesia, ia ikut turun ke jalan bersama para penyandang cacat dan para janda perang Operasi Seroja. “Kami tidak menuntut apaapa, hanya mengungkapkan kekecewaan dan ingin pemerintah tahu soal itu,” ujarnya seperti ditulis dalam buku tersebut.

Membaca kisah Agus dan Ronny, kita bisa mafhum bahwa keterbatasan fisik tak lantas mengurangi kecintaan dan pengabdian kepada republik. Keduanya tetap dihormati karena kemampuan dan integritasnya.

“Saya selalu teringat sosok Pak Agus yang pemberani itu, khususnya jika sedang tugas di hutan Timtim. Keteladanan Pak Agus selalu melekat pada saya,” kata mantan Wakil KSAD Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri yang memberikan testimoni dalam buku tersebut.