Ada Serangan Sonik Misterius, AS Kurangi Staf Diplomatik di Kuba

Washington DC Amerika Serikat (AS) memulangkan lebih dari separuh stafnya di Kedutaan Besar (Kedubes) miliknya yang ada di Kuba. Hal ini menanggapi serangan misterius yang membuat sakit para diplomat AS.

Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, mengumumkan keputusan itu pada Jumat (29/9) waktu setempat. Tillerson menegaskan, AS tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Kuba, yang baru saja pulih tahun 2015 dan kembali memburuk di bawah Presiden AS Donald Trump.

“Kuba telah memberitahu kita bahwa mereka akan terus menyelidiki seranganserangan ini dan kita akan terus bekerja sama dengan mereka dalam upaya ini,” ucap Tillerson dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Sabtu (30/9/2017).

“Kita tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Kuba dan kinerja kita di Kuba terus berlanjut sesuai dengan kepentingan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat,” imbuhnya. Tidak disebut lebih lanjut jumlah personel diplomatik AS di Kuba yang ditarik pulang.

Serangan misterius yang diduga melibatkan gelombang sonik itu menargetkan sedikitnya 21 staf Kedubes AS di Havana dalam beberapa terakhir. Para staf dan diplomat yang menjadi korban serangan ini mengalami sejumlah gejala fisik yang terlihat jelas, seperti gangguan pendengaran, pusing, sakit kepala, kelelahan dan gangguan tidur.

“Kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan komunitas kedutaan kita menjadi kekhawatiran terbesar kita. Kita akan terus menyelidiki secara agresif seranganserangan ini hingga persoalan ini diselesaikan,” tegas Tillerson.

Secara terpisah, seorang pejabat senior pada Departemen Luar Negeri AS menuturkan layanan visa rutin akan ditangguhkan untuk sementara waktu sebagai dampak dari serangan sonik misterius tersebut.

Otoritas Kuba memberikan reaksi keras atas langkah AS ini dengan menyebutnya sebagai langkah yang tergesagesa. Namun Kuba masih bertekad bekerja sama dengan AS dalam penyelidikan kasus ini. “Pemerintah Kuba menghormati kewajibannya di bawah Konvensi Wina,” tegas Kepala Urusan Amerika Utara pada Kementerian Luar Negeri Kuba, Josefina Vidal, merujuk pada kewajiban pemerintah melindungi diplomat asing dan keluarganya.

Serangan sonik misterius ini dicurigai mulai terjadi pada pertengahan November 2016 hingga musim semi tahun ini. Sejumlah diplomat AS juga Kanada yang bertugas di Havana tibatiba jatuh sakit dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Otoritas AS menduga, senjata sonik canggih yang beroperasi di luar jangkauan suara yang terdengar jelas, ditembakkan ke bagian dalam atau bagian luar kediaman para diplomat asing itu. Serangan lainnya melibatkan suara cukup keras, mirip dengungan lebah atau gesekan logam di lantai, namun sumber suara itu tidak bisa diidentifikasi. Beberapa diplomat diserang senjata misterius itu saat larut malam, kebanyakan saat sedang tertidur.