7 Warga Dibunuh, Myanmar Kirim Ratusan Tentara ke Rakhine

Naypyidaw Myanmar meningkatkan keamanan di wilayah Rakhine, yang dihuni mayoritas warga Rohingya, setelah kembali terjadi serangkaian pembunuhan. Ratusan tentara Myanmar dikerahkan ke Rakhine untuk menjaga keamanan wilayah rawan konflik itu.

Dituturkan dua sumber militer Myanmar, seperti dilansir Reuters, Jumat (11/8/2017), bahwa militer telah mengerahkan personelnya ke negara bagian Rakhine untuk membantu memperketat keamanan. Pengerahan dilakukan setelah pekan lalu, tujuh warga penganut Buddha ditemukan tewas dibacok di pegunungan dekat kota Maungdaw.

Salah satu sumber militer Myanmar yang memahami pengerahan ini menyebut, ada sekitar 500 tentara yang dikerahkan ke beberapa kota di Rakhine bagian utara, termasuk Buthidaung dan Maungdaw, yang dekat dengan perbatasan Bangladesh, pada Kamis (10/8) waktu setempat.

“Kita harus meningkatkan operasi keamanan karena situasi keamanan semakin memburuk beberapa warga muslim dan penganut Buddha dibunuh oleh pemberontak,” ucap Kepala Kepolisian Negara Bagian Rakhine, Kolonel Sein Lwin, kepada Reuters.

Juru bicara militer Myanmar dan juru bicara pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, belum mengomentari hal ini.

Dituturkan Lwin bahwa pengamanan di Rakhine dan sekitarnya ditingkatkan dengan kehadiran personel militer tambahan dan polisi setempat dalam kondisi waspada tinggi. Keamanan di pos perbatasan dengan Bangladesh juga diperkuat.

Badan HAM ASEAN, ASEAN Parliamentarians for Human Rights, menyuarakan kekhawatirannya soal penambahan jumlah tentara di Rakhine.

“Aung San Suu Kyi seharusnya menyerukan seluruh pihak, termasuk militer Myanmar, untuk meredakan konflik di Rakhine bagian utara, bukannya semakin memperburuknya,” ucap anggota Badan HAM ASEAN tersebut, Eva Kusuma Sundari, dalam pernyataannya.

Operasi militer Myanmar di Rakhine tahun lalu memicu banyak korban jiwa. Berbagai tindak kekerasan terhadap warga Rohingya dilaporkan marak terjadi, mulai dari pembunuhan, penganiayaan hingga pemerkosaan.

Sekitar 1,1 juta warga Rohingya tinggal di Rakhine, namun mereka tidak mendapat status kewarganegaraan dan dibatasi akses terhadap kebutuhan dasar oleh otoritas Myanmar.