11 Polisi Filipina Dinonaktifkan Terkait Insiden Salah Tembak

Insiden salah tembak di Filipina yang menewaskan dua orang tak bersalah berujung pada penonaktifkan 11 personel Kepolisian Filipina. Penyelidikan menyeluruh terhadap insiden ini masih terus dilakukan.

Dalam insiden yang terjadi pada Kamis (28/12) malam waktu setempat ini, para polisi tersebut melepas tembakan ke arah sebuah kendaraan yang membawa tujuh orang di dalamnya. Mereka salah mengira bahwa kendaraan itu membawa pelaku penembakan yang sedang dikejar.

Saat ditembaki, kendaraan itu sedang bergegas ke rumah sakit setempat. Salah satu penumpang kendaraan itu merupakan seorang wanita yang mengalami luka-luka, ahirnya tewas usai terkena tembakan polisi. Satu orang lainnya yang ada di dalam kendaraan yang sama juga tewas.

Kepala Kepolisian Metro Manila, Oscar Albayalde, menyatakan para polisi dari kota Mandaluyong itu mendapatkan informasi yang salah sebelum melepas tembakan. Menurut Albayalde, para polisi itu diberitahu beberapa pejabat desa setempat bahwa para penumpang kendaraan itu bersenjata.

“Kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya,” ucap Albayalde kepada media setempat, seperti dilansir Reuters, Jumat (29/12/2017).

Dalam pernyataannya, juru bicara Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan ‘insiden ini akan diselidiki secara menyeluruh’.

Dituturkan Albayalde bahwa Kepala Kepolisian Mandaluyong bersama 10 personelnya telah dinonaktifkan secara administratif dari tugasnya dan pergerakannya dibatasi, sementara penyelidikan masih berlangsung. Senjata api milik polisi yang terlibat insiden ini juga disita.

Albayalde menyatakan sedikitnya 36 selongsong dari rentetan peluru ditemukan di lokasi. Semua senjata yang dibawa personel kepolisian dan para pejabat desa yang dilaporkan ikut melepas tembakan, akan diperiksa lebih lanjut untuk mencari tahu siapa saja yang menembaki van itu.

Video insiden itu, yang ditayangkan oleh televisi lokal, menunjukkan sejumlah polisi menodongkan senjata ke arah van saat suara tembakan menggema. “Kami tidak menyembunyikan apapun di sini. Kami tidak menyunting fakta yang menunjukkan adanya kemungkinan reaksi berlebihan atau pelanggaran POP (prosedur operasional kepolisian),” imbuh Albayalde.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *